Haisom broth, A legacy from my beloved Mama (A story from Christine Tan)

Haisom broth, A legacy from my beloved Mama (A story from Christine Tan)

Waktu saya kecil, setiap menjelang Sinciak, ada satu hal yang selalu saya tunggu. Bukan baju baru. Bukan angpao.

Tapi satu hidangan di meja makan: haisom (sea cucumber)

Setiap malam Sincia, Mama selalu memasak menu yang paling istimewa.

Bahan yang mahal, proses yang panjang, dan dimasak dengan sungguh-sungguh.


Mama bukan tipe yang mengucapkan,

“Mama sayang kamu.”

Cintanya hadir dengan cara lain.

Lewat makanan yang dimasak hampir seharian di dapur.

Lewat bahan terbaik yang dipilih sendiri.

Lewat masakan yang harus selalu fresh,


Bahkan jika itu berarti Mama harus ke pasar saat subuh, saat langit masih gelap. Dari sanalah hoisom ini lahir, dari ingatan masa kecil, dari meja makan setiap hari raya.

Dari Mama yang diam-diam menjaga keluarganya lewat sebuah makanan.

Saya percaya, makanan terbaik adalah makanan yang dibuat dengan ketulusan. Karena di dalamnya ada niat memberi yang terbaik untuk orang yang kita cintai.

Dalam budaya Tionghoa, makanan bukan sekadar makanan.

Seringkali, makanan adalah doa.
Hoisom dikenal sebagai makanan pemulihan.

Untuk orang tua.

Untuk yang sedang lemah.

Untuk mereka yang ingin menjaga kesehatannya.

Dulu, hoisom dianggap sebagai makanan kehormatan.

Bukan karena kemewahannya, tapi karena prosesnya, karena
haisom tidak bisa dimasak tergesa-gesa. Ia harus direndam, dijaga, dan dimasak perlahan. Seperti merawat seseorang yang kita cintai.

Karena salah sedikit saja, tekstur dan nutrisinya bisa rusak.

Dan mungkin itulah sebabnya, kenangan tentang hoisom selalu tinggal di hati saya.

Hari ini, kenangan itu saya teruskan di Brothnco.

Sebagai varian Haisom (sea cucumber)

Sebagai warisan ingatan dari dapur Mama.

Disajikan dengan tanggung jawab, ketulusan,

dan harapan akan tubuh yang sehat.

Agar keluarga bisa terus berkumpul,

utuh, dan saling menjaga satu sama lain.

Kembali ke blog